Friday, December 21, 2012

Kala si bungsu Menangis

Mendapat karunia anak kedua setelah si sulung berusia lima tahun membuat saya tergagap melakukan penyesuaian. Saya terbiasa mengasuh anak laki-laki. Sesuai kecenderungan umum laki-laki, Muhammad Zidan (9 tahun) lebih dominan menggunakan akal ketimbang perasaan. Saya dengan mudah mengasuhnya, meski dengan perbendaharaan informasi yang standar.


Begitu Batrisyia Afifiah Kinanti (4) lahir, saya betul-betul kewalahan. Mendampingi kesehariannya, seperti menyangga telur di atas kepala. Jika saya salah bergerak maka pecahlah tangis- nya. Tangisan Kinan bagai badai Sandy yang memorak-porandakan Amerika Serikat belum lama ini. Sulit sekali meredakannya. Saya harus ekstra sabar dalam mengasuhnya.

Terlebih, Kinan cenderung perfeksionis. Kalau mendapat sesuatu yang tak sesuai dengan per- mintaannya, dia akan menangis kencang. Dalam sehari, Kinan bisa empat atau lima kali ganti baju. Itu bukan atas kemauan saya. Dia yang meminta. Kemandirian nya memang saya akui. Dia ingin makan dan minum sendiri tanpa bantuan.

Di lain sisi, namanya juga anak-anak, saat makan dan minum ada saja air yang tumpah di bajunya.
Begitu juga saat mencuci tangan. Kinan juga sudah bisa melakukannya sendiri. Agar memu- dahkannya, saya lipat lengan bajunya. Segala aktivitas Kinan yang berhubungan dengan air rawan sekali dengan tangisan. Dia tak tahan jika bajunya basah, meski cuma kena setetes air atau sedikit cipratan air. Kalau bajunya tak segera diganti, tangisannya meledak.

Saya memahami karakter Kinan, tetapi dia mesti mencoba untuk melebarkan ambang batas sensitivitasnya terhadap rasa basah. Dengan sabar, saya memberi pengertian berulang. "Kinan betul, kita harus ganti baju begitu terasa basah. Kalau kena ciprat, itu basahnya sedikit. Sebentar juga kering, Sayang.
Kalau basahnya banyak, kita ganti baju." Kinan tak serta merta menurut.

Saya yakin, dia hanya perlu sedikit penyesuaian. Alhamdulillah, seiring waktu si bungsu mulai terbangun toleransinya terhadap rasa basah. Setelah melewati kejadian itu, saya kira periode gampang nangisnya sudah berlalu. Dia sudah berusia empat tahun sekarang.

Saat mengikuti pendidikan di sekolah internasional dari pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, Kinan tak tahan dengan jam pelajaran yang begitu panjang. Kinan jadi sangat malas untuk dibangunkan di pagi hari. Membangunkannya merupakan per- juangan saya setiap harinya. Tangisan masih mewarnai pagi demi pagi. Saat itu, saya masih meraba-raba cara yang tepat untuk membuatnya menurut. Pernah juga saya marahi. Rasa penye- salan membuncah begitu Kinan pamit, mencium saya, lalu mengucapkan "bye-bye" dan " love you".

Saya harus menemukan pendekatan yang tepat untuk Kinan. Setelah berpikir keras, saya mendapat ide. Setiap pagi, saya bangunkan Kinan setengah jam dari jadwal biasanya. Tentunya, saya harus bangun lebih pagi agar bekal dan menu sarapan siap sebelum semua penghuni rumah terbangun. Setelah itu, saya bisa fokus dengan Kinan saja. Sedangkan, kakaknya alhamdulillah sudah bisa mengurus diri sendiri.
Saat membangunkan Kinan, saya siapkan mental untuk tidak marah dengan apapun yang Kinan minta. Dia terkadang hanya minta beberapa menit untuk berpelukan dan bercanda. Saya juga kerap membujuk rayu agar suasana hatinya senang.

Rayuannya sederhana saja. Saya berjanji untuk mengajaknya menggambar bunga kesukaannya saat pulang sekolah, membuatkan donat, membuatkan puding, berjanji memancing, atau mengajak berenang di pantai. Tentunya, saya pun harus konsisten dengan janji yang sudah dibuat. Terlebih, Kinan senantiasa mengingatkan janji mamanya.
epapernya karena ga bisa beli langsung , jauh :D

Tulisan ini  terbit di Leisure repulika edisi 04 desember 2012. Jika Anda mempunyai kisah buah hati dan ingin mengirimkan ,Kirim ke leisure@rol.republika.co.id sertakan foto ,alamat email, dan nomor rekening.

10 comments:

  1. anak-anak biasannya lebih ingat daripada orang tuanya...**pengalaman :D

    ReplyDelete
  2. betul pisann say..

    tiap libur ada tagihann .. hehe

    ReplyDelete
  3. betul pisann say..

    tiap libur ada tagihann .. hehe

    ReplyDelete
  4. Waaaaaaaaaaaaa sepertinya saya harus banyak belajar nih mak.....

    menahan esmosi ga marah itu sangat susah :(

    klo dah janji bakal dikejar2 terus ya... hahahha samaaaaaaaaaaa :)
    salam buat kel disana :)

    ReplyDelete
  5. sama say.. daku juga susyahhh

    harus banyak2 baca buku parenting biar terus ada yang mengingatkan.. hehe

    salam juga buat qila dan calon babyvmu y..
    semoga sehat selalu...

    ReplyDelete
  6. memang mantap tulisannya mak. sederhana tapi mengena. Pantas masuk Republika. Selamat

    ReplyDelete
  7. wah begitu ya.. hmm ini mah lagi rizki aja

    makasih ya :D

    ReplyDelete
  8. wah daku belajar darimu kann?? hehe

    mkasih y.. ayo kirim yoo

    ReplyDelete
  9. Salam kenal mba Hana.Wah mba, ternyata anak co dan ce itu beda to?pantesan anakku ampun2an,pas banget analoginya,menyangga telur di kepala.Najlaku persis Kinan,tangannya Kotor dikit bilang "Kotor,tissue,dilap." Basah dikit juga gt:(.termasuk ke mainan2nya.padahal apa2 maunya sendiri, nggak mau dbantuin,kebayang donk kemungkinan kotor dan basahnya.Kuncinya sabar..saking perfeksionisny,bahkan nih, misal main miniatur hewan,minta ditaruh di situ, dia tunjuk lokasinya,geser 1cm aja meledak teriakannya,huff.Tapi kelebihan2nya juga banyak yg bikin kita terkagum2 dilihat dari usianya yg baru 2tahun.owh ya, jadi mikir,gimana ya kalo nanti Najla mulai sekolah?*nambah stok sabar kayanya*

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, silahkan berkomentar dengan sopan, dan lucu *loh

dan jika berkenan dengan nama dan alamat Blog yang benar
Supaya memudahkan saya untuk bersilaturahmi kembali.ke Blog Kamu