Showing posts with label my fiksi. Show all posts
Showing posts with label my fiksi. Show all posts

Thursday, February 20, 2014

Prompt #39: Bowls of Balls

credit

“Hey, Sar  kamu jadi mau belajar bikin bakso Mang Imin?”

“Jadi dong, Net. Demi calon mertua. Dia minta aku pinter bikin bakso katanya. Apalagi Bakso Mang Imin, itu bakso yang paling disukai calon mertuaku, Net.”

“Ya udah nanti aku gak bareng kamu ya pulangnya, Net. Aku langsung ke Mang Imin. Udah janjian.”

“Ok deh gudlak ya, Sar.”

Tuesday, October 1, 2013

Berani Cerita #29 : Rokok Ibu

credit


"Uhuk-Uhuk."

Sepertinya suaraku tak terdengar Ibu, tapi aku merasa makananku kali ini tak seenak kemarin. Kalau aku protes, Ibu hanya diam dan kadang berteriak ke arahku. Ibu pernah memukulku lalu aku pun tak tinggal diam aku balas pukulannya. Lalu Ibu menangis.

                                                                            ***

Tuesday, September 24, 2013

Prompt #27: Malam Pertama




credit
Aku merasakan getaran dalam dada yang semakin cepat ritme hentakannya. Tarikan nafas yang kuatur tak jua membuat lajunya menurun.


"Sabar, kamu itu mau  seneng-seneng tho, Le! Bukannya mau dihukum mati."

"Tapi. Bu Aku deg-degan loh ini!"

Tuesday, July 2, 2013

Prompt #19: Moms and Children

Gambar
Dokumentasi Pribadi Nurul Noe
Emak dan aku berjalan bergandengan, menapaki jalanan kampung yang becek, sisa hujan tadi malam. Aku merekam satu persatu jalanan, tikungan, sawah dan rumah-rumah penduduk yang kulewati. Entah kapan  aku akan datang ke kampung ini lagi. Aku hanya memiliki sedikit biaya, untuk bekalku diperantauan. Sepertinya aku  akan jarang pulang.

Thursday, June 20, 2013

Prompt #17: Profesi

Monday Flashfiction
"Bye, Kinan muaah." Aku menempelkan jari-jari di mulutku dan meniupnya ke arah Kinan.
"No Mom, wait, I want you to see my teacher," Kinan menarik tanganku, dan mempertemukan aku di hadapan seseorang. Dia berambut putih keemasan, badannya terlihat segar dan sangat ramah, dia menjabat erat tanganku dan menghadiahiku sebuah senyuman. Ternyata ini guru yang selama ini Kinan ceritakan, sejenak berbincang membuatku sampai pada kesimpulan, beruntungnya anakku mendapat guru secantik dan sebaik Mss Katty. Aku melanjutkan perjalanan mengantar Duta Kakak Kinan.

Thursday, June 13, 2013

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

My Collection
"Ingat, besok mama ada arisan. Kamu jangan sekali-sekali menarik perhatian temen-temen Mama!"
"Ngerti!"
"Tapi, Ma..."
"Sudah, kamu kan sudah dewasa, kenapa sih, masih berfikiran seperti anak kecil?"
"Tolonglah, Sarah, kamu kerja yang betul, bukannya kamu punya mimpi? Iya kan?"
"Sudahlah, Please jangan buat Mama malu, dan terus menerus berbohong demi menutupi kebohongan yang lain!"

"Brakk!" Pintu tertutup dengan kencangnya, seperti biasa jika Mama marah. Kupandangi jalan raya dari balik kaca, keindahan yang tak pernah bisa kunikmati. Jalanan, bunga, taman. Tiba-tiba aku ingat pesan Mama.

Aku kembali bekerja, memandang sebuah kotak menyala berukuran 9 inch. Melihat lalu lintas penjualan Farfum, Tas Baranded, Baju Mahal dan entah apalagi yang akan mengisi pekerjaanku yang sudah kugeluti selama lima tahun belakangan ini. Bisnis Online Mama.

"Haiiii jeng,.. masuk masuk."
"Whahh ada banyak barang baru nih, keliatannya?"
"Akhh jeng Sari betul, ini loh jeung Farfum baru, dipake sama Pacarnya Ronaldho, pasti jeung suka. Nanti Mas lozz mu pasti makin klepek-klepek deh."

"Ibu-Ibu arisan sudah datang rupanya," aku menguping dari balik pintu. Ingin sekali aku keluar untuk melarikan diri sementara Mama melayani tamu-tamunya. Tapi aku ingat pesan Mama, aku harus bekerja agar aku bisa segera mewujudkan mimpiku.

"Jeng Dina, Sarah masih di Amerika?"
"Iya, dia gak mau pulang, udah merasakan indahnya dunia, malah sekarang dia mau buka butik dengan teman kuliahnya, mainannya artis hollywood jeung, Duh saya banyak-banyak doa jadinya, semoga Sarah selalu dijalan yang benar. Amerika gituloh." Mama Sarah memasang muka melas.

"Wah, jadi barang dagangan ini kiriman Sarah, ya jeng Dina? " Bu Sri penasaran.
"Iya, Kan bisnis Online saya dipasok dari Sarah di Amerika. Barangnya pasti asli dan dijamin bagus."
 "Ok saya pilih yang ini, ya."
"Saya ambil tas ini Jeng."
"Silahkan, Ibu-Ibu diborong, bayarnya bisa kapan saja."
"Eh, ga dong Jeng Dina, saya gak biasa ngutang. Ini saya langsung transfer pake SMS Banking ya"

"Ping"
Suara dari kotak ajaib mengejutkannya. Rupanya sebuah transferan baru saja diterima. 
Satu..,
Dua..,
Tiga..,
Empat..,
Wah bisnis Mama lancar. Aku bisa segera operasi tulang, agar bandanku tidak kerdil lagi. Dan Mama bisa dengan Bangga memperkenalkan aku pada teman--temannya.

Senangnya.. aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Aku menatap sekeliling . Botol-botol parfum yang tertata rapi, Tas KW dari Cina dan baju-baju hasil jahitanku semua seakan tersenyum kearahku.

Friday, June 7, 2013

Wasiat Ibu

Panas sekali cuaca Surabaya siang ini. Setelah turun dari sebuah bis, aku memutuskan untuk berhenti dan membeli sebuah Es dawet yang terlihat sangat menggiurkan. Sensasi segar langsung terasa sesaat setelah suapan kelima mampir di tenggorokan. Aku membuka sebuah dompet dan mengambil beberapa lembaran seribuan untuk membayar, lalu secarik kertas berisi alamat kubuka  untuk memastikan.

Wednesday, May 29, 2013

Prompt #14: Desa Berselimut Salju

Kartika Kusumastuti




"Miyako, tunggu aku!" Tomo mengejar Miyako yang menuruni gunung es dengan kecepatan tinggi.

"Tidak, sudah aku bilang jangan pernah merayuku lagi! Aku sudah tak tahan dengan kebohonganmu."

"Miyako, dengar dulu, aku dan Sasa hanya berteman. Bukannya Sasa dan kamu adalah teman baik?"

"Tapi tidak begini caranya. Aku tahu siapa Sasa, kamu orang baru disini."

"Sudahlah kalau kamu lebih memilih Sasa, aku relakan asal jangan pernah mengganggu dan menemuiku lagi! pergilah ke desa lain!"

Tomo masih berteriak, tetapi dia sudah jauh tertinggal. Miyako tahu Sasa teman baiknya, tetapi Sasa selalu iri dengan Miyako karena Miyako selalu lebih dicintai oleh penduduk kampung daripada Sasa. Karena Miyako pernah menolong seorang balita yang akan di gigit beruang.

Monday, May 20, 2013

Prompt #13: Bapak Yang Di Warung

"Mang, pesenan saya dibawain, kan?"

 "Iya, Bu Fajar, tapi maaf daun pepayanya cuma dua iket."

 "Mang, kalau pesanan saya, gimana?" Aku tak mau ketinggalan.

 "Tenang, Bu Anna. Nih, udah saya plastikin." Mang Charly menyodorkan bungkusan hitam pesananku.

"Bu Fajar tumben belanjanya banyak hari ini?" Aku mengawali pembicaraan dengan tetangga baruku yang mempunyai toko kelontong didepan rumah itu.

"Iya, Bu Anna, ada mertua saya di rumah. Oiya, saya duluan ya Bu,  mau masak untuk makan siang. Mari, Bu Anna. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya."

Saturday, April 13, 2013

prompt #9 : Parfum Eyang

credit

Aku bergegas. Kaca mata hitam dan asesoris lain untuk menyamarkan identitas, sudah melekat. Aku tak mau melewatkan detik demi detik waktu yang terus berjalan. Aku harus bekerja keras tetapi, tak ada yang bisa dikerjakan jika tak ada orderan.

Mobil ini satu-satunya peninggalan masa kejayaanku. Gaya hidup yang kujalani membuat aku lebih cepat kehilangan harta benda dari pada saat mendapatkannya. Aku ingin karir yang cemerlang lagi. Aku ingin memiliki banyak uang dan foya-foya seumur hidup. Menjadi artis terkenal seperti dulu. Dan melajang seumur hidup agar tak pernah ada yang mengatur kehidupanku.

Tepat di sebuah rumah mewah dengan puluhan pilar penyangga,  aku menghentikan mobil. Pagarnya putih, dan cat tembok keseluruhan juga berwarna putih. Seorang penjaga rumah sepertinya sudah mengerti apa yang biasanya dilakukan oleh setiap tamu yang datang didepan rumah itu. Aku langsung dipersilahkan masuk dan menunggu giliran. Aku melihat satu persatu tamu yang datang dengan berbagai macam rona wajah.

Tibalah giliranku. Seseorang yang dipanggil Eyang menghampiriku dengan hangat, dan menggandengku memasuki sebuah ruangan.

"Apa kabar, cantik? " Sapaan dari mulut tak bergigi itu membuat aku mengulum senyum.

"Baik, Eyang. " Aku hanya bisa mengulas senyum. Sebenarnya malas sekali aku berhubungan dengan hal-hal klenik semacam ini. Apalagi mendatangi bandot tua ini. Hanya saja jalan hidupku sudah buntu. Aku harus mencoba jalan yang ditunjukan oleh salah seorang sahabatku. Aku pernah kerumah ini mengantarnya. Dan sahabatku itu kini sudah kaya raya.

" Begini, Eyang.. "

"Tidak usah bicara apa-apa, Eyang sudah tahu "

"Hmmm, yakin Eyang"

"Yakin dong, Eyang gitu loh" Sebetulnya aku benci sikapnya yang genit itu.

Lelaki yang kupanggil Eyang itu lalu meramu beberapa bahan yang aku tak pernah tahu terbuat dari apa. Lalu dia mengeluarkan sebuah parfum berwarna merah.

"Begini cara memakainya" Eyang meneteskan parfum pada beberapa bagian tertentu diwajah dan dadaku. Aku menurut saja, wanginya sangat menggoda, harum sekali. Dan seketika aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

****
Aku membuka mata, sepertinya bukan ditempat terakhir aku bertemu Eyang. Ruangan ini begitu asing. Aku dikejutkan sebuah suara disampingku.

"Selamat pagi permaisuriku, selamat kau telah menjadi istri ke sepuluh Eyang, pasti kamu senangkan?"

Monday, April 1, 2013

Prompt #8: Kendi

"Rasanya, semua teman-temanku mulai menjauhi."
"Aku masih jadi temanmu selama 1000 tahun, Jindo" Jindi menghibur.
" Entah bagaimana lagi cara aku belajar.., aku sudah tinggal kelas selama 500 tahun di TK ini."
"Tuhan, bukankah aku juga engkau ciptakan sama , mempunyai akal pikiran, mengapa tak bisa aku gunakan dengan baik?" Jindo mulai mengeluh.
"Sudah, sabar saja Jindo. Semua pasti akan berakhir"
"Berakhir bagaimana, aku belum juga mengabulkan apa yang diminta Mr. Jinet disetiap kelas kita."
"Tapi, setidaknya kamu sudah bisa menghadirkan sebuah benda," balas Jindi
"Sudahlah, Jindi aku lelah" 
Jindo meninggalkan Jindi terbang kesana-kemari, masih juga berpikir kemana tempat untuk mengasingkan diri seumur hidup.
"Ahaaa, Rumah tua.. boleh juga "  
"Brakkk .." Sebuah suara terdengar gaduh. Jindo melihat sebuah kendi berwarna merah. Tanpa berpikir panjang, Jindo memasuki kendi merah itu dengan gemetar. 
"Ssssssttttt sudah disini aja kita ngumpetnya" Terdengar suara bisikan dari mereka.
" Sepertinya mereka hanya dua orang," Jindo bergumam.
"Hey.. lihat aku menemukan sebuah kendi "
"Wah, jangan-jangan kendi ajaib"
"Coba digosok aja, Met siapa tahu ada jin yang keluar" Lellaki yang disebut met itu kelihatan ragu.
Hati jindo makin tidak karuan. Met mulai menggosok kendi ajaib tersebut. Akhirnya sebuah asap mengepul dari lubang kendi,  Jindo keluar dengan malu-malu. Tak ada tawa keras membahana seperti yang sering terjadi ketika seorang jin keluar dari kendi ajaib.
"Hey, kamu Jin kan?" Met bertanya heran.
"Iya..," jawab Jindo ketakutan.
" Hey , kalau kamu jin, pasti kamu bisa mengabulkan permintaan seperti dalam dongeng-dongeng itu kan??"
"Tapiii.. ,"   
" Ah sudahlahh, sekarang aku minta 3 permintaan ya.!" Met memaksa.
"Aku minta duit yang banyak!" Met mulai beraksi.
"Tapi..," 
"Sudah lakukan saja!"
"Ba.. baiklah" Jindo memejamkan mata
"Thing.. "
Seorang polisi tiba-tiba hadir di depan ketiganya.
"Hah, kok polisi sih, jin oon Gue minta uang, cepetan!"
"Thing.. " 
Kali ini seekor anjing pelacak juga hadir dan nampak kebingungan .
"Ouggch .. ouggchh .. ouggcchhh.. " Si anjing mulai menyapa.
"Thing.. "          
"Thing.."   
--------------****************************-------------------------

Tuesday, March 19, 2013

Prompt #6: Black

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Terakhir kulihat Noura masih berteriak dan meronta. Aku tak tahan ingin ke toilet , cuaca dingin ini benar-benar merepotkan . Berkali-kali aku harus buang air kecil. Ku tinggalkan Noura dan security yang terdiam.

Dari toilet aku mendengar sayup-sayup suara Noura menjadi aneh. 

"Nobita, jangan lari kamu!"

"Aku tahu kau lah yang menghancurkan kerajaanku"
  
" Bukan aku giant , bukan aku "

"Assalamualaikum ya Ahmed.. khaifa khaluk? " (assalamualaikum, apa kabar)

"Alhamdulillah bi khoir.. "  (alhamdulillah baik)

"Ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum,"

"Ku berduka kau bahagia, ku pergi kau kembali"

"Hey.. " Pikiranku makin kacau, aku segera membereskan urusan ku di toilet. Ternyata dugaan ku benar. Kucing kesayangan ku mencoba bermain dengan remote TV. Semua nomor yang ada dalam remote di injak dengan suka cita.  Film Mr.Black yang sedang ku pause ternyata ikut berjalan aku melewatkan beberapa adegan . 

"Kriiingggg.. " suara telepon mengagetkan .

" Haloo , ya? "

" Kasetnya mau diambil sekarang??

" Gwe belom selesai ..  "

Tut.. Tuut.. Tutt.. 

**

Ting tonggg.. 

"Gwe ga mau masuk, sini kasetnya " 

"Denger ya, Gwe ga mau pake lo lagi! Lo tahu Ga? "

"Kemaren lo kasih gwe kaset apaan??"

"Mana ada lagi perang ada suara kucing,  ada lagu michael jakson?"

"Gila lu ya??! Makanya sebelum setor di edit dong"

"Kontrak kita habis sampe sini. Gwe mau cari pengganda kaset bajakan yang lain"

" Amatiran! capek gwe ama Lu "



275 word for Monday Flash Fiction

Thursday, March 7, 2013

Prompt #4: Boneka untuk Risa




"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"
98762898AP12103-2

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”
Bayu mengangguk senang.

Ibu melangkah ke kamar, tetapi yang dicari tidak ada. Tak sulit mencari seseorang di rumah itu. Rumah yang tidak luas. Karena hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan dapur. Ruang tamu yang berisi kasur yang sudah menipis, tumpukan baju, dan beberapa galon kosong. Ibu menuju dapur dan melihat Risa disana. Di depan tungku yang menyala, menunggu kukus ubi yang dimasak Ibu.
 
"Risa! lihat, Kak Bayu bawa boneka sayang." Risa menoleh ke arah Ibu dan Bayu.

"Kak Bayuu! Itu bukan boneka bayi yang Risa maksud"

Risa menyambar boneka yang Ibu bawa. "Tuh, ini kalau dotnya di copot bayinya enggak nangis, botol susunya mana, ?"

"Warna bajunya juga bukan pink!" 

"Risa sebel, sama Kak Bayu"  Risa mengerucut.

Bayu berlalu dari dapur, konsentrasinya buyar. Tongkatnya jatuh , Bayu berjalan menabrak satu demi satu galon yang kosong, dan akhirnya tersungkur.

'Jika saja aku tidak buta. Penjual tadi tak mungkin bohong padaku.'  Air mata Bayu menetes dan semakin deras. Gitar yang di selendangkan terasa berat menimpa punggungnya.
 

Tuesday, March 5, 2013

[BeraniCerita #01] Rumah Tua


Aku mencium bau melati dari ikat kepala yang menjulur ke dadaku. Melati asli, Hmmm segarnya. Sanggul yang baru saja terpasang membuatku kesulitan menengok kiri dan kanan. Aku merasa seperti robot.

"Kenapa Mbak, Ndak biasa ya?" tanya seorang perias memandang ku dengan senyuman.

"Iya Nih Mbak, saya belum pernah pakai perhiasan dan acceoris serame ini"

"Namanya juga hari bahagia, harus istimewa"

"Mbak cantik kok, pasti nanti calon suaminya pangling" timpalnya lagi.

Keramaian di luar kamar terdengar sampai ruang hias. Aku mendengar sayup-sayup seseorang berkata bahwa mempelai pria sudah datang, dan menuju mesjid yang hanya beberapa langkah dari rumahku. Hatiku berdegup kencang, Ibuku membuka pintu dan masuk.

"Sayang, ayo kita ke mesjid Nak.. Calon suamimu sudah datang"

"Wahh anak Mama cantik sekali,.. " Mata Mama berkaca, Aku melihat bayangan wajahku sendiri dimatanya.

"Doakan Aku ya Mah,.. Aku sayang Mama"

"Pasti, Nak.."

Aku melangkah pasti menuju mesjid, tak sampai lima menit aku sudah didudukan di samping seorang pria yang sangat tampan. Dialah calon suamiku. Berbagai mimpi telah kami lukis bersama, dan siap merealisasikan nya setelah ijab kabul. Sebuah kerudung putih di lengkupkan dikepala kami berdua.

"Saya nikahkah.. "

                                                                          ***

"Alhamdulillah.. " Semua mengucap syukur bahagia.

Akhirnya Aku sudah resmi menjadi Ny. Hadi. Satu demi satu  tamu undangan menyalami. Dan tibalah Kami menaiki mobil Mini Cooper yang Hadi miliki. Beberapa Accesoris terlihat menghiasi mobil itu. Khas mobil pengantin, lengkap dengan beberapa kaleng yang di gantung di belakang bemper mobil.

"Sebentar Sayang Aku punya kejutan buat Kamu"

" Maaf ya Aku menutup matamu"

Aku hanya pasrah saja, saat Hadi menutup mataku dengan sebuah sapu tangan.

"kamu jangan ngintip ya, Sayang"

Aku digiring menaiki mobil, tak selang berapa lama mobil melaju. Aku masih tidak diijinkan membuka mata. Hadi berkata bahwa dia akan membawaku kerumah baru Kami. Rumah yang Aku idamkan. Rumah unik dan terbuat dari bahan-bahan traditional. Tak selang berapa lama, Aku merasakan mobilnya terhenti.

"Sampaiii.. " Kata Hadi.

"Sini Aku bantu ya"

Aku perlahan turun dari mobil dibantu Hadi.

"Sekarang buka matanya, kita sudah sampai di rumah baru kita" Hadi berseru riang.

Aku membuka mataku perlahan, Angin segar meniup wajahku. Aku merasakan kesejukan, akan tetapi setelah melihat rumah di depanku, Aku merasa terkejut sekali. Bagaimana bisa Hadi mendeskripsikan rumah impianku sejauh ini. Aku pernah berkata aku ingin rumah yang antik, tapi bukan berarti harus seram begini.

"Mas Hadi.. kamu yakin?? "

"Yakin sayang,.. " Hadi tersenyum lebar..

"Tahu tidak, ini rumah sebetulnya bagus, hanya saja sudah lama tak terpakai . Yah sekitar 20 tahunlah.."

"Bangunannya sudah aku cek, kuat sekali karena terbuat dari jati asli"

"Kamu suka kan,? hanya cat sana sini dan bersih deh.."

Aku membayangkan malam pertama di rumah tua, seketika aku melihat beberapa burung menari dikepalaku.

"cit cit cuit cit cit cuit.."

450 word.

Sunday, March 3, 2013

#1- Lampu Bohlam

Saat Mak Latree membuka  sebuah event menulis yang diadakan setiap hari jumat, saya senang,  karena merasa akhirnya, tambah banyak aja media untuk menjuruskan jari jemari saya agar tetap istiqomah menulis.

Karena biasanya saya hanya menulis status FB, itu pun kadang tidak jarang hanya tulisan Gak jelas dan gak bertopik. Tapi dengan lemparan yang di berikan mak latree , saya jadi bisa memfokuskan tulisan saya pada sebuah tema. Katanya ide muncul karena terpaksa. Kali ini temanya adalah 'lampu bohlam'.

Lampu bohlam


Teringat sekitar dua puluh tahun yang lalu
Lampu bohlam adalah salah satu benda yang kami rindukan
Pegawai desa sibuk setiap hari bolak-balik kecamatan
Membawa beberapa lembar persyaratan

Mengajukan semua kepala keluarga
Untuk  kepemilikan lampu bohlam di desa kami
Apa daya kuota saat itu terbatas sesempit kuota naik haji
Tak semua kepala keluarga mendapat kabar gembira

Hanya yang berupiah tebal yang akan di penuhi
Lembar demi lembar persyaratan kembali ke setiap rumah
hanya beberapa kepala yang menyanggupi
termasuk keluarga kami

Itu pun dengan catatan keterbatasan penggunaan
Tak selang berapa hari rumah kami pun menjadi remang
Karena tak semua ruangan kami isi dengan lampu bohlam
Dapur tetap dengan sinar petromak yang ternyata lebih terang

Suatu hari hujan datang
Esok hari senin, sepatu sekolah belum lah kering
Aku dan kakak ku menghangatkan sepatu kami 
secara bergantian

Aku menyelesaikan lebih dulu lumayan sudah lebih kering
Tiba giliran kakak ku 
 Melakukan seperti yang kulakukan
Malam semakin larut mulut kami menguap bergantian

Aku meninggalkan nya sendirian
Meninggalkan dia yang menggarang sepatu warrior nya
Bau terbakar tercium dari kamarku
Samar-samar antara pulas dan tidak

Aku terkejut mengingat sesuatu
Jangan-jangan..
Kutemukan kakaku yang duduk tertidur 
Dengan sepatu di tangan berada diatas sebuah petromak

Tali sepatu yang mulai menghitam 
api mementik menuju lubang-lubang tali sepatu 
sepatunya nyaris terbakar
Dan dia tetap tertidur

Wednesday, February 20, 2013

[BeraniCerita #2] Aku cemburu? Ya, aku cemburu

credit
Hari ini tak terlihat postingan game bolamu di wallku . Aku mulai membuka chat room, aku berharap membaca namamu disana, lalu setelah spasi, nampak bulatan hijau, tanda online. Sia-sia.

Ku tutup chatroom dan kembali ke beranda. Tak ada kabar menarik. Hanya berisi ocehan teman-teman yang mengeluh, saling mencaci,  pamer,  postingan lebay, alay dan sejenisnya.

"Hufh.. pasti kamu sedang mengurus pernikahanmu!"

"Nyebelin banget sih tuh perempuan!"

"Sok imut, sok alim"

Teringat postinganmu waktu itu, memamerkan calon istri.  Dan seluruh komentar bernada sama . Semua berseru setuju bahwa kalian begitu serasi.

"fuihh.."

Serasi dari hongkong? Aku pun terpaksa me-like poto itu dan berkomentar

"semoga langgeng"

Setelah itu aku add perempuanmu itu, dan berkenalan. Sering aku pasang topeng saat ngobrol dengannya. Sering kukatakan bahwa dia cantik, baik dan serasi denganmu.

Hmmmm.. capek! semua kulakukan hanya ingin aku tahu, mana yang lebih dalam cintamu padaku dulu atau sebaliknya. 

"whuaaa.. ternyata aku menang..!"

Perempuanmu bilang , "kamu pendiam, tidak romatis, kaku bla..bla.. bla.. "

Masih teringat jelas setahun yang lalu kamu berkata, bahwa aku lah alasan satu-satunya melajang. Cinta monyet kita dulu sangat membekas untukmu.

Tapi.. "hidup harus berjalan"  katamu.

 Foto itu membuktikan bahwa kamu pun berjalan, menuju takdirmu. Membuat aku cemburu.

Cemburu? Ya, aku cemburu. Harusnya Aku yang ada di foto itu . Bukan perempuan sok alim itu.

Aku capek dengan rasa cemburu ini. Aku hapus akunmu dari friendlist .

 Hari ini ku putuskan untuk mengajak suami dan anak-anakku memancing. Mereka pasti senang sekali.

"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."


Tuesday, January 22, 2013

Prompt #1: G-String Merah


"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.."  Alarm menjerit  membahana.
Seketika kelopak matanya terbuka.

 “Whoaammmm.” Dion menguap.

 Dipukulnya alarm yang melengking meminta pertolongan. Terlihat jarum pendek yang menunjukan angka 8 pagi.

“What?" 

“Jiahhh terlambat sudah!” 

Monday, December 17, 2012

#Postcardfiction#Berbagi Cinta

Dingin mulai menusuk tulang. Tangan lembutnya menyertakan jaket tenun lembut ke pundak ku. Ternyata perempuan itu sangat cantik. Aku baru menyadarinya belakangan ini. Tak hanya cantik di wajah, tetapi juga cantik hatinya. Mungkin keegoanku selama ini menutupi pandangan ku tentangnya.

"Bunda.. Bunda Laras main bola yuk,"

Anak ku memanggil wanita muda itu.

"Sebentar saya tinggal ya kak,"

 Dia pun berlalu. Mataku mengikuti langkahnya menuju anak ku yang sudah menunggunya mengajak bermain bola.

 Dari arah berbeda, sebuah mobil hitam yang baru saja parkir di halaman rumah kami, menyapa dengan klakson mobilnya.

'Ayah' batinku.
Aku hanya bisa membatin. Suaraku sudah lama menghilang.

Laki-laki yang kupanggil ayah itu menghampiri ku. Sebuah kecupan hangat mendarat di pipiku. Laras menghampiri kami, dia mencium tangan Ayah dan Ayah membalas mencium keningnya.
sedangkan anakku setengah berlari menghampiri Ayah dan naik di pundaknya.

"Wah hujan.., " Ayah berseru panik.
"Ayo semua kita masuk rumah.." Ayah menggendong anakku dengan berlari.
sedangkan aku.. Aku pun berlari dengan kursi rodaku. Di dorong laras yang membungkukan badan nya agar aku tidak terkena hujan.

Sunday, December 9, 2012

#Postcardfiction @kampung Fiksi :Maafkan Aku Yang Melewatkanmu

Aku termenung membaca Postcard pertama mu ini
*********************************************************************
"Jujur aku tak kuasa untuk menghadapi dunia. Aku selalu berkata betapa Tuhan tak adil dalam hidupku. Tuhan memberi kecerdasan padaku , Tapi tuhan tak memberikan keberanian bahkan hanya untuk sekedar menyatakan bahwa aku mencintaimu.
Saat Kau datang ke rumah dengan seragam abu-abu mu yang bercoret tinta berwarna warni. Jujur aku seperti kedatangan bidadari . Bidadari berkepang dua.  Kau hadir saat tak terduga. Aku tak jua mempunyai keberanian untuk mengungkap rasa. Kau pun berlalu membawa senyum merona . Khas mu.
Aku tak jua mencoba. Aku tak tahu perasaanmu, sampai kudengar kau telah memilih pendamping hidup mu. Aku tak percaya dengan semuanya. Aku melewatkan mu begitu saja. Bidadari yang kuidamkan sejak aku beranjak remaja.

Thursday, July 26, 2012

Madu pahit

assalamualaikum semua, Nah klo ini ceritanya sih pengen bikin novel..

tapi belum ada terusannya: nyicil yah :D
ini sebuah cerita si pemula,mohon saran dan kritiknya..
saya hanya ingin meyakinkan hati saya ,apakah benar menulis itu seperti ini.??
mohon koreksi dari semua ,terimaksih sebelumnya sudah sudi membaca..

kebun madu
" aku berangkat sekolah dulu ya bu", sambil membawa tiga buku yang hanya ku bawa dalam pelukan,"pagi ini kau sudah minum madu?" ,"sudah bu" jawab ku singkat," madu itu baik untuk kesehatan ,rasanya juga enak kan?" tanya ibuku," iya bu" jawab ku selalu singkat,. " madu itu manis,bayi yang baru dilahirkan juga sudah meminum madu,ibu tahu kau sangat suka iya kan? o ya jangan lupa sepulang sekolah ambil lagi madu-madu yang sudah siap panen dibeberapa pohon kita yah",.. " iya bu" seakan tak pernah bosan kata itu keluar dari mulutku,aku memang tak banyak bicara,ibu dan tetangga ku pun mengakuinya. seakan tak bosan juga setiap hari aku mengkonsumsi madu entah karena aku tahu khasiatnya atau aku hanya menuruti kata ibuku.

teks proklamasi sudah dua tahun yang lalu di bacakan oleh pahlawan proklamator indonesia tercinta.Ditahun yang sama kala aku mulai menjadi wanita baligh yang menurut orang tuaku sudah waktunya di pinang,walau aku tak sepenuhnya mengerti apa yang mereka bicarakan.

Didaerah kami,tepatnya di dusun cimalaka salah satu desa terpencil di daerah Garut ,yang jarang sekali terjangkau kendaraan roda empat, usia dua belas tahun sudah lumrah memasuki pernikahan .

Pendidikan yang hanya diselesaikan sampai kelas dua Sekolah Rakyat membuat ku tak cukup nyali untuk mengungkapkan apa yang aku inginkan,atau mungkin aku pun tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan saat itu,satu yang pasti adalah hidupku hanya sekali pun kehidupan orangtuaku,tak pernah ada pembangkangan dan selalu mengiyakan apa kata ibu itulah baktiku.

pagi itu matahari enggan menemani,padahal waktu dhuhur sejam lagi menyapaku,aku pun beristirahat di saung
dekat sawahku,penglihatan tertuju pada air jernih yang mengalir dari bambu tua yang disangga bambu-bambu lainnya kami memyebutnya talang.tak ku iyakan ajakan air jernih yang merayuku untuk sekedar membelai sejuknya,aku teringat pesan ibuku untuk pulang sebelum dhuhur berkumandang.ibu dan aku akan membuat kesepakatan.

Madu manis

semua sudah berkumpul,aku duduk melipat lututku karena kebaya dan kain samping yang kukenakan membuat ku tak leluasa bergerak,aku tenang,hati ku juga,tepat didepan ku sebuah map diatas meja dan seorang lelaki setengah baya memakai peci hitam yang ada lusuh,sepertinay itu peci kesayangan atau keberuntungan nya aku pun tak begitu meyakini perkiraan ku ,suasana hening tak ada kegaduhan,hanya suara canda anak-anak diluar ruangan yang mencoba menyelinap hening nya ruang tamu rumah ku,semua wajah menunggu ,yang dinanti pun tiba seorang pria tampan yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak gemuk,tinggi nya cukup ideal dengan berat badan nya hanya sedikit kumis tipis yang membuat jantung ku berdebar kencang,dia kah calon suami yang dikatakan ibu,tak apalah jika ini takdir ku aku menerima nya ucapku dalam hati,pertama kali dalam hidupku bertemu laki-laki yang membuat ku merasakan "sesuatu".

sejak hari itu kehidupan ku menjadi berbeda,aku jadi periang senang menyapa,senang berdandan dan senang sekali berbicara,apapun yang kualami selalu aku utarakan pada ibu,saat aku menemui nya di rumah kami dulu.ibuku sangat senang melihat perubahan ini,sampai suatu hari....

maaf cerita ini agak panjang,.. dan saya belum mempunyai cukup waktu
untuk melanjutkan nya.. ( berebut dengan karir saya yang lain,karena saya juga merangap koki,guru anak saya,
dan juga manager pemasaran dan asisten pribadi suami.. hehe) my fiksi