Monday, May 20, 2013

Prompt #13: Bapak Yang Di Warung

"Mang, pesenan saya dibawain, kan?"

 "Iya, Bu Fajar, tapi maaf daun pepayanya cuma dua iket."

 "Mang, kalau pesanan saya, gimana?" Aku tak mau ketinggalan.

 "Tenang, Bu Anna. Nih, udah saya plastikin." Mang Charly menyodorkan bungkusan hitam pesananku.

"Bu Fajar tumben belanjanya banyak hari ini?" Aku mengawali pembicaraan dengan tetangga baruku yang mempunyai toko kelontong didepan rumah itu.

"Iya, Bu Anna, ada mertua saya di rumah. Oiya, saya duluan ya Bu,  mau masak untuk makan siang. Mari, Bu Anna. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya."



Setelah Bu Fajar pergi aku lekas menyelesaikan transaksi dengan Mang Charly tukang sayur langganan kami. Akhir-akhir ini aku senang karena aku punya tetangga baru yang sebaya seperti Bu Fajar. Aku yang janda ini kadang butuh teman sharing yang sebaya apalagi dekat dengan rumah. Sayang aku belum mengenal semua anggota keluarganya, suami apalagi mertuanya  yang baru datang itu. Sampai pada suatu hari aku kehabisan garam dan pergi ke warung Bu Fajar.

"Assalamualaikum Bu, Bu Fajar?"  Aku memanggil-manggil dari depan warung.

"Waalaikumussalam."

Seorang laki-laki berusia sekitar 60 tahun tampak keluar dari dalam rumah, laki-laki yang seperti aku kenal. Aku terpaku, dadaku sesak, lututku seperti terkena pengapuran tulang yang hebat seketika. Wajah itu, seperti wajah Mas Faizatul Fajari, suamiku. Hanya Mas faiz yang mewarisi tulang rahang ayahnya, alis tebal beriring, bibir tipis dan dagu yang bulat. Perawakannya tidak begitu tinggi tapi juga tidak pendek, kulitnya sawo matang tapi bersih. Sebelum lututku benar-benar menyentuh tanah aku membalikan tubuh dan kembali kerumah secepat kilat.

Mertua Bu Fajar ternyata mertuaku juga. Aku memanggil anaknya dengan Mas Faiz. Ternyata Bu Fajar lebih suka memanggil suaminya dengan Fajar aku tak pernah curiga jika Faizatul Fajar dan orang yang dipanggil Mas Fajar adalah orang yang sama,  Sepuluh tahun yang lalu Anak mertua Bu Fajar itu, meninggalkan aku dan ketiga balitaku tanpa belas kasihan. Dan hilang ditelan bumi.


Mff

32 comments:

  1. lah kirain konyol mak..
    huwaaaaa kq aq blom ada ide ya.. :(

    ReplyDelete
  2. akkkkkkkkk sedih ;p twist ya keren

    ReplyDelete
  3. Keyen ya mak idenya.....:) tetapi kalau di padatkan sepertinya lebih bagus deh mak :D...*peluk hangat darikuh

    ReplyDelete
  4. Maaf itu dialog baris ketiga kecele gak ya tanda petiknya? #eh

    ReplyDelete
  5. ih, keren idenya mak. ^_^

    kreatif

    ReplyDelete
  6. Waaaahhhh...keren twistnya... Ngenes dan perih tapi asli keren

    ReplyDelete
  7. weh weh weh, nguenes e poll, kecele' aku, kirain bakal lucu karena dialog awalnya. bagus :)

    ReplyDelete
  8. langsung kaburm kelihatan gak sama bapak mertuanya?

    ReplyDelete
  9. Keren, Mbak, idenya :) dan penulisannya yang kuperhatikan. Sudah meningkat banyak sekali dari pertama aku membaca tulisan mbak Hana yang prompt 3 "Telat" itu :) aku inget banget, deh. hehhehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. whuaahaha dulu aku sampe minta inbok y mak..

      mkasih y udah tunjukan aku jalan yg benar haha

      pelukkkkkk

      Delete
    2. haha.. pastinya juga karena usaha Mbak Hana sendiri :)
      peluuuukkk kembali...

      Delete
  10. Anaknya si mertua mana...?

    Mari kita gebukin sama2.. hahaha...

    ReplyDelete
  11. huwahh...*kaget*

    ReplyDelete
  12. knapa kaget sama mertuanya? harusnya mak hana ngamuk2, mana suami saya? #efeksinetron
    tp bs jd itu tetangganya nikah sama adik suami anna, #pembelaan

    ReplyDelete
  13. aku masih jd silent reader untuk para fiksimania di prompt ini hikss... sdg buntu menulis fiksi mak *_*

    ReplyDelete
  14. Maaakkk, bagus ini ihhhh...
    Mak "Waalaikumsalam" lupa tanda petik penutup tuh :D

    ReplyDelete
  15. bagusnya...
    tapi endingnya bisa dipoles lagi mbak, biar lebiih 'ngiris' :D

    ReplyDelete
  16. Ih, ngenes banget :( nyesek, apalagi ya?? :D berarti sukses Mak, mengiris hati pembaca :)

    ReplyDelete
  17. minder apanyaaaa? ini kereeen tauuk. ;)

    ReplyDelete
  18. hwaaa... saya kirain ini nonfiksi, eh enggak taunya fiktif. keren mbak

    ReplyDelete
  19. mbak hana, ini alamat blog liza... engga ada option untuk masukin name/url

    www.liza-fathia.com

    ReplyDelete
  20. dan itu si abang charly teh sekarang jadi tukang sayur? albumnya udah ga laku ya bang? :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbuahahha... tukang sayur sekarang yah, namanya gahullll...

      Delete
  21. dan cerita ini keren. sekian :)

    ReplyDelete
  22. pertemuan tak terduga nih. Keren, cuma pengen ketawa liat nama tukang sayurnya, Charly he he :)

    ReplyDelete
  23. aak mbak bagus banget, aku baru mampir sekali langsung pengen langganan blog nya, okesip! x)

    ReplyDelete
  24. ini ga nyindir ...st12 itu kaan..koq disini jadi tukang sayur...#kaboooor sebelum dilempar pake terong

    ReplyDelete
  25. Hihihi ini bisa jadi judul sinetron, suamiku bukan suamimu. atau.. jangan rebut suamiku :p

    ReplyDelete
  26. kereeennnn...

    itu si mas faiz kemana? sini aku timpuk..sungguh teganya..hehe

    ReplyDelete
  27. Mak, cerita ini dibikin fisi panjang ato novel gitu dong mak. tar aku yang baca.... suka ama ceritanya, berasa kurang sreg pengen tau lanjutannya.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, silahkan berkomentar dengan sopan, dan lucu *loh

dan jika berkenan dengan nama dan alamat Blog yang benar
Supaya memudahkan saya untuk bersilaturahmi kembali.ke Blog Kamu