Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Tuesday, March 18, 2014

Putri Koumi-Koumi

Ada cerita dari negeri antah berantah abad 21.  Kerajaan mengadakan pesta ulang tahun salah satu pangerannya. Semua rakyat bersemangat menyambutnya. Apalagi para gadis, tentu saja mereka ingin memakai gaun indah untuk pesta itu dan ingin terlihat cantik dimata pangeran. Agar nasib baik menghampiri. Siapa yang tahu pangeran akan memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan putri.

Saturday, March 15, 2014

Prompt 42: Bunga Kertas

Flash Fiction

"Ma, ayo cepat!"

"Sebentar, Kinan mama selesaikan masaknya ya."

"Lama dong, Ma. Ayooo."

"Kinan baru pulang sekolah nanti kita buat sambil makan ya."

"Ahhh, sekarang aja." Celana abu-abuku yang  panjang sebelah terus ditariknya.

"Gini aja, Kinan nyalakan dulu komputernya lalu cari you tube dan mana gambar yang diinginkan untuk jadi tutorial."

Monday, October 7, 2013

Berani Cerita #30 : Peron Kereta Api

Credit
Sampai juga di stasiun, aku mengantar karryna pacarku untuk menjemput Abangnya yang juga adalah suami Hana. Karryna berjanji untuk bertemu Hana di stasiun, menunggu suaminya lalu kita double date. Selalu begitu. Aku suka saat-saat itu. Sampai di stasiun , aku melihat Hana semakin ayu langsing dan pandai menjaga kecantikannya.

"Mbak Hana, kamu kok sekarang gendut sih?" Fajar membuka percakapan.

"Menurutku sih, bagusan gendut, berisi tepatnya dari pada cungkring kayak kamu, Jar."

Tuesday, October 1, 2013

Prompt #28 Gabah Abah

credit
"Jang, bawa yeuh hu'utna!"

"Tong loba-loba teuing, Bah. Sakarung wae!"

"Nya kumaha maneh we atuh."

Percakapan Abah dan Dadang Sikenek membuatku sedikit was-was. Sisa hujan semalam biasanya membuat jalanan kampung menjadi licin.

"Hana mau duduk di depan atau di belakang?"

Berani Cerita #29 : Rokok Ibu

credit


"Uhuk-Uhuk."

Sepertinya suaraku tak terdengar Ibu, tapi aku merasa makananku kali ini tak seenak kemarin. Kalau aku protes, Ibu hanya diam dan kadang berteriak ke arahku. Ibu pernah memukulku lalu aku pun tak tinggal diam aku balas pukulannya. Lalu Ibu menangis.

                                                                            ***

Tuesday, September 24, 2013

Prompt #27: Malam Pertama




credit
Aku merasakan getaran dalam dada yang semakin cepat ritme hentakannya. Tarikan nafas yang kuatur tak jua membuat lajunya menurun.


"Sabar, kamu itu mau  seneng-seneng tho, Le! Bukannya mau dihukum mati."

"Tapi. Bu Aku deg-degan loh ini!"

Tuesday, July 2, 2013

Prompt #19: Moms and Children

Gambar
Dokumentasi Pribadi Nurul Noe
Emak dan aku berjalan bergandengan, menapaki jalanan kampung yang becek, sisa hujan tadi malam. Aku merekam satu persatu jalanan, tikungan, sawah dan rumah-rumah penduduk yang kulewati. Entah kapan  aku akan datang ke kampung ini lagi. Aku hanya memiliki sedikit biaya, untuk bekalku diperantauan. Sepertinya aku  akan jarang pulang.

Thursday, June 20, 2013

Prompt #17: Profesi

Monday Flashfiction
"Bye, Kinan muaah." Aku menempelkan jari-jari di mulutku dan meniupnya ke arah Kinan.
"No Mom, wait, I want you to see my teacher," Kinan menarik tanganku, dan mempertemukan aku di hadapan seseorang. Dia berambut putih keemasan, badannya terlihat segar dan sangat ramah, dia menjabat erat tanganku dan menghadiahiku sebuah senyuman. Ternyata ini guru yang selama ini Kinan ceritakan, sejenak berbincang membuatku sampai pada kesimpulan, beruntungnya anakku mendapat guru secantik dan sebaik Mss Katty. Aku melanjutkan perjalanan mengantar Duta Kakak Kinan.

Thursday, June 13, 2013

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

My Collection
"Ingat, besok mama ada arisan. Kamu jangan sekali-sekali menarik perhatian temen-temen Mama!"
"Ngerti!"
"Tapi, Ma..."
"Sudah, kamu kan sudah dewasa, kenapa sih, masih berfikiran seperti anak kecil?"
"Tolonglah, Sarah, kamu kerja yang betul, bukannya kamu punya mimpi? Iya kan?"
"Sudahlah, Please jangan buat Mama malu, dan terus menerus berbohong demi menutupi kebohongan yang lain!"

"Brakk!" Pintu tertutup dengan kencangnya, seperti biasa jika Mama marah. Kupandangi jalan raya dari balik kaca, keindahan yang tak pernah bisa kunikmati. Jalanan, bunga, taman. Tiba-tiba aku ingat pesan Mama.

Aku kembali bekerja, memandang sebuah kotak menyala berukuran 9 inch. Melihat lalu lintas penjualan Farfum, Tas Baranded, Baju Mahal dan entah apalagi yang akan mengisi pekerjaanku yang sudah kugeluti selama lima tahun belakangan ini. Bisnis Online Mama.

"Haiiii jeng,.. masuk masuk."
"Whahh ada banyak barang baru nih, keliatannya?"
"Akhh jeng Sari betul, ini loh jeung Farfum baru, dipake sama Pacarnya Ronaldho, pasti jeung suka. Nanti Mas lozz mu pasti makin klepek-klepek deh."

"Ibu-Ibu arisan sudah datang rupanya," aku menguping dari balik pintu. Ingin sekali aku keluar untuk melarikan diri sementara Mama melayani tamu-tamunya. Tapi aku ingat pesan Mama, aku harus bekerja agar aku bisa segera mewujudkan mimpiku.

"Jeng Dina, Sarah masih di Amerika?"
"Iya, dia gak mau pulang, udah merasakan indahnya dunia, malah sekarang dia mau buka butik dengan teman kuliahnya, mainannya artis hollywood jeung, Duh saya banyak-banyak doa jadinya, semoga Sarah selalu dijalan yang benar. Amerika gituloh." Mama Sarah memasang muka melas.

"Wah, jadi barang dagangan ini kiriman Sarah, ya jeng Dina? " Bu Sri penasaran.
"Iya, Kan bisnis Online saya dipasok dari Sarah di Amerika. Barangnya pasti asli dan dijamin bagus."
 "Ok saya pilih yang ini, ya."
"Saya ambil tas ini Jeng."
"Silahkan, Ibu-Ibu diborong, bayarnya bisa kapan saja."
"Eh, ga dong Jeng Dina, saya gak biasa ngutang. Ini saya langsung transfer pake SMS Banking ya"

"Ping"
Suara dari kotak ajaib mengejutkannya. Rupanya sebuah transferan baru saja diterima. 
Satu..,
Dua..,
Tiga..,
Empat..,
Wah bisnis Mama lancar. Aku bisa segera operasi tulang, agar bandanku tidak kerdil lagi. Dan Mama bisa dengan Bangga memperkenalkan aku pada teman--temannya.

Senangnya.. aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Aku menatap sekeliling . Botol-botol parfum yang tertata rapi, Tas KW dari Cina dan baju-baju hasil jahitanku semua seakan tersenyum kearahku.

Friday, June 7, 2013

Wasiat Ibu

Panas sekali cuaca Surabaya siang ini. Setelah turun dari sebuah bis, aku memutuskan untuk berhenti dan membeli sebuah Es dawet yang terlihat sangat menggiurkan. Sensasi segar langsung terasa sesaat setelah suapan kelima mampir di tenggorokan. Aku membuka sebuah dompet dan mengambil beberapa lembaran seribuan untuk membayar, lalu secarik kertas berisi alamat kubuka  untuk memastikan.

Wednesday, May 29, 2013

Prompt #14: Desa Berselimut Salju

Kartika Kusumastuti




"Miyako, tunggu aku!" Tomo mengejar Miyako yang menuruni gunung es dengan kecepatan tinggi.

"Tidak, sudah aku bilang jangan pernah merayuku lagi! Aku sudah tak tahan dengan kebohonganmu."

"Miyako, dengar dulu, aku dan Sasa hanya berteman. Bukannya Sasa dan kamu adalah teman baik?"

"Tapi tidak begini caranya. Aku tahu siapa Sasa, kamu orang baru disini."

"Sudahlah kalau kamu lebih memilih Sasa, aku relakan asal jangan pernah mengganggu dan menemuiku lagi! pergilah ke desa lain!"

Tomo masih berteriak, tetapi dia sudah jauh tertinggal. Miyako tahu Sasa teman baiknya, tetapi Sasa selalu iri dengan Miyako karena Miyako selalu lebih dicintai oleh penduduk kampung daripada Sasa. Karena Miyako pernah menolong seorang balita yang akan di gigit beruang.

Monday, May 20, 2013

Prompt #13: Bapak Yang Di Warung

"Mang, pesenan saya dibawain, kan?"

 "Iya, Bu Fajar, tapi maaf daun pepayanya cuma dua iket."

 "Mang, kalau pesanan saya, gimana?" Aku tak mau ketinggalan.

 "Tenang, Bu Anna. Nih, udah saya plastikin." Mang Charly menyodorkan bungkusan hitam pesananku.

"Bu Fajar tumben belanjanya banyak hari ini?" Aku mengawali pembicaraan dengan tetangga baruku yang mempunyai toko kelontong didepan rumah itu.

"Iya, Bu Anna, ada mertua saya di rumah. Oiya, saya duluan ya Bu,  mau masak untuk makan siang. Mari, Bu Anna. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya."

Thursday, April 25, 2013

Prompt #10: Shioban dan Kereta Kuda

"Kereta kuda hanya untuk para ratu dan penyihir."
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku menginginkannya?" kata Shioban sambil mendelik ke arah jin penjaga.

"Maaf shioban, bukankah kamu seorang shioban lesbi, jadi kau bukan ratu tulen, kereta kuda keramat ini akan ternodai." Jin penjaga nampak ketakutan.

" Hahaha, Jin jadi kamu percaya gosip murahan itu, hah?" Shioban lagi-lagi mendelik.

"Maaf , Shioban aku diperintah Raja agar tidak mengantarmu menggunakan kereta ini"

"Apa?? kamu menolakku, jin? "

"Sebetulnya, aku adalah jin perempuan shioban, maukah kau menjadi pacarku?"

"Aku telah lama menaruh hati padamu, shioban."

Tring

Sebuah kereta kuda abad 22 hadir dihadapan shioban. Shioban terpana dan membelai wajah jin yang sudah berubah menjadi cantik jelita.

"Wah kereta ini untukku jin? indah sekali. "

credit
 "Aku tahu jin, aku tahu kau wanita. Namamu Jinny kan? Setahun yang lalu, tak sengaja aku melihatmu saat mandi di sungai."

"Selama itu pula aku memendam rasa." Shioban tersipu malu.

"Shioban, jadi kau menerimaku ?" Jinny serasa tak percaya.

*****

'Akhirnya, tugas dari raja berjalan lancar, gossip itu benar.'  Jinny memeluk Shioban erat.

**************************************************************

Note : Shioban = ratu lesbi


Thursday, April 18, 2013

[BeraniCerita #08] Posesif

 

"Papa, tolong kesini sebentar, aku cari kaos kaki biru kok enggak ada, tahu ga? " Seru Danis.

"Aku juga enggak bisa pake baju yang ada kancingnya deh, Pa." Suara Dania menimpali.

"Papa!" Suara keduanya menyadarkan Arif dari lamunan. Arif segera membuka pintu kamar dan menghampiri kedua anaknya yang sedang berhadapan.

"Ada apa sih, kok ribut sekali?"

"Kalian kan sudah kelas tiga SD, masa beginian aja harus dibantu." Arif bersungut-sungut memakaikan baju Dania yang berbentuk kemeja itu.

"Tapi aku  belum bisa, Pa. Biasanya mama juga sabar bantuin kita."

"Iya, Mama juga ga pernah bentak-bentak kita kayak gini, ya Dania ya?!" Danis membela saudara kembarnya.

"Sudah! sudah! Tak ada Mama lagi!"

"Cepat kemeja makan dan kita sarapan!" Arif setengah berteriak. Membuat Danis dan Dania berhambur keluar kamar dan menuju meja makan. Akan tetapi saat di meja makan, Danis dan Dania lagi-lagi tak bisa menerima kenyataan ketika dimeja makan yang tersaji hanya telur ceplok, itu pun setengah gosong. Danis hanya saling pandang dengan Dania, dan memutar sendok dalam piring masing-masing.

"Sampai kapan kalian begini, kalau tidak selesai makan, kapan kalian berangkat sekolah?"

"Nanti terlambat!"

"Tinnn Tinnn"

Sebuah klakson terdengar dari luar rumah. Kedua nya beranjak dari meja makan dan tak memperdulikan ocehan Arif yang terus menerus berteriak. Bahkan Danis dan Dania tak sempat mencium tangan Arif. Keduanya  berlari menuju bus jemputan yang sedang menunggu.

Arif menarik nafas panjang, dan kembali ke kamar. Diraihnya sebuah HP dan menekan sebuah nomor.

"Ma, Arif ga kuat . Tolong gantikan Arini mengurus Danis dan Dania. Arif tak bisa melayani mereka selembut Arini Ma. Arif ternyata tak bisa hidup hanya bertiga. "

"Yang sabar ya, Arif mama segera datang."

Suara  diujung telepon menenangkan hati Arif yang luluh lantah di tinggal Arini sebulan yang lalu. Arini menghadap Illahi saat mengantar Laptop Arif yang ketinggalan. Arini disambar sebuah truk saat menyebarang.

Arif meletakan HP disamping meja tidurnya, di sebelah cangkir putih yang terakhir kali dia minum ketika sarapan bersama Arini.

"Arini, aku rindu saat-saat kau selalu cerewet tentang kesehatanku. Anak-anak kita.  Kau selalu membuat satu cangkir teh untuk kita berdua, hanya karena kau terlalu menyayangiku agar aku tidak terkena diabet. Aku merindukanmu Arini."

Telunjuk Arif mengitari lingkaran cangkir yang masih terlihat sisa lipstik Arini.

364 words.
credit
 

Saturday, April 13, 2013

prompt #9 : Parfum Eyang

credit

Aku bergegas. Kaca mata hitam dan asesoris lain untuk menyamarkan identitas, sudah melekat. Aku tak mau melewatkan detik demi detik waktu yang terus berjalan. Aku harus bekerja keras tetapi, tak ada yang bisa dikerjakan jika tak ada orderan.

Mobil ini satu-satunya peninggalan masa kejayaanku. Gaya hidup yang kujalani membuat aku lebih cepat kehilangan harta benda dari pada saat mendapatkannya. Aku ingin karir yang cemerlang lagi. Aku ingin memiliki banyak uang dan foya-foya seumur hidup. Menjadi artis terkenal seperti dulu. Dan melajang seumur hidup agar tak pernah ada yang mengatur kehidupanku.

Tepat di sebuah rumah mewah dengan puluhan pilar penyangga,  aku menghentikan mobil. Pagarnya putih, dan cat tembok keseluruhan juga berwarna putih. Seorang penjaga rumah sepertinya sudah mengerti apa yang biasanya dilakukan oleh setiap tamu yang datang didepan rumah itu. Aku langsung dipersilahkan masuk dan menunggu giliran. Aku melihat satu persatu tamu yang datang dengan berbagai macam rona wajah.

Tibalah giliranku. Seseorang yang dipanggil Eyang menghampiriku dengan hangat, dan menggandengku memasuki sebuah ruangan.

"Apa kabar, cantik? " Sapaan dari mulut tak bergigi itu membuat aku mengulum senyum.

"Baik, Eyang. " Aku hanya bisa mengulas senyum. Sebenarnya malas sekali aku berhubungan dengan hal-hal klenik semacam ini. Apalagi mendatangi bandot tua ini. Hanya saja jalan hidupku sudah buntu. Aku harus mencoba jalan yang ditunjukan oleh salah seorang sahabatku. Aku pernah kerumah ini mengantarnya. Dan sahabatku itu kini sudah kaya raya.

" Begini, Eyang.. "

"Tidak usah bicara apa-apa, Eyang sudah tahu "

"Hmmm, yakin Eyang"

"Yakin dong, Eyang gitu loh" Sebetulnya aku benci sikapnya yang genit itu.

Lelaki yang kupanggil Eyang itu lalu meramu beberapa bahan yang aku tak pernah tahu terbuat dari apa. Lalu dia mengeluarkan sebuah parfum berwarna merah.

"Begini cara memakainya" Eyang meneteskan parfum pada beberapa bagian tertentu diwajah dan dadaku. Aku menurut saja, wanginya sangat menggoda, harum sekali. Dan seketika aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

****
Aku membuka mata, sepertinya bukan ditempat terakhir aku bertemu Eyang. Ruangan ini begitu asing. Aku dikejutkan sebuah suara disampingku.

"Selamat pagi permaisuriku, selamat kau telah menjadi istri ke sepuluh Eyang, pasti kamu senangkan?"

Monday, April 1, 2013

Prompt #8: Kendi

"Rasanya, semua teman-temanku mulai menjauhi."
"Aku masih jadi temanmu selama 1000 tahun, Jindo" Jindi menghibur.
" Entah bagaimana lagi cara aku belajar.., aku sudah tinggal kelas selama 500 tahun di TK ini."
"Tuhan, bukankah aku juga engkau ciptakan sama , mempunyai akal pikiran, mengapa tak bisa aku gunakan dengan baik?" Jindo mulai mengeluh.
"Sudah, sabar saja Jindo. Semua pasti akan berakhir"
"Berakhir bagaimana, aku belum juga mengabulkan apa yang diminta Mr. Jinet disetiap kelas kita."
"Tapi, setidaknya kamu sudah bisa menghadirkan sebuah benda," balas Jindi
"Sudahlah, Jindi aku lelah" 
Jindo meninggalkan Jindi terbang kesana-kemari, masih juga berpikir kemana tempat untuk mengasingkan diri seumur hidup.
"Ahaaa, Rumah tua.. boleh juga "  
"Brakkk .." Sebuah suara terdengar gaduh. Jindo melihat sebuah kendi berwarna merah. Tanpa berpikir panjang, Jindo memasuki kendi merah itu dengan gemetar. 
"Ssssssttttt sudah disini aja kita ngumpetnya" Terdengar suara bisikan dari mereka.
" Sepertinya mereka hanya dua orang," Jindo bergumam.
"Hey.. lihat aku menemukan sebuah kendi "
"Wah, jangan-jangan kendi ajaib"
"Coba digosok aja, Met siapa tahu ada jin yang keluar" Lellaki yang disebut met itu kelihatan ragu.
Hati jindo makin tidak karuan. Met mulai menggosok kendi ajaib tersebut. Akhirnya sebuah asap mengepul dari lubang kendi,  Jindo keluar dengan malu-malu. Tak ada tawa keras membahana seperti yang sering terjadi ketika seorang jin keluar dari kendi ajaib.
"Hey, kamu Jin kan?" Met bertanya heran.
"Iya..," jawab Jindo ketakutan.
" Hey , kalau kamu jin, pasti kamu bisa mengabulkan permintaan seperti dalam dongeng-dongeng itu kan??"
"Tapiii.. ,"   
" Ah sudahlahh, sekarang aku minta 3 permintaan ya.!" Met memaksa.
"Aku minta duit yang banyak!" Met mulai beraksi.
"Tapi..," 
"Sudah lakukan saja!"
"Ba.. baiklah" Jindo memejamkan mata
"Thing.. "
Seorang polisi tiba-tiba hadir di depan ketiganya.
"Hah, kok polisi sih, jin oon Gue minta uang, cepetan!"
"Thing.. " 
Kali ini seekor anjing pelacak juga hadir dan nampak kebingungan .
"Ouggch .. ouggchh .. ouggcchhh.. " Si anjing mulai menyapa.
"Thing.. "          
"Thing.."   
--------------****************************-------------------------

Tuesday, March 19, 2013

Prompt #6: Black

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Terakhir kulihat Noura masih berteriak dan meronta. Aku tak tahan ingin ke toilet , cuaca dingin ini benar-benar merepotkan . Berkali-kali aku harus buang air kecil. Ku tinggalkan Noura dan security yang terdiam.

Dari toilet aku mendengar sayup-sayup suara Noura menjadi aneh. 

"Nobita, jangan lari kamu!"

"Aku tahu kau lah yang menghancurkan kerajaanku"
  
" Bukan aku giant , bukan aku "

"Assalamualaikum ya Ahmed.. khaifa khaluk? " (assalamualaikum, apa kabar)

"Alhamdulillah bi khoir.. "  (alhamdulillah baik)

"Ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum,"

"Ku berduka kau bahagia, ku pergi kau kembali"

"Hey.. " Pikiranku makin kacau, aku segera membereskan urusan ku di toilet. Ternyata dugaan ku benar. Kucing kesayangan ku mencoba bermain dengan remote TV. Semua nomor yang ada dalam remote di injak dengan suka cita.  Film Mr.Black yang sedang ku pause ternyata ikut berjalan aku melewatkan beberapa adegan . 

"Kriiingggg.. " suara telepon mengagetkan .

" Haloo , ya? "

" Kasetnya mau diambil sekarang??

" Gwe belom selesai ..  "

Tut.. Tuut.. Tutt.. 

**

Ting tonggg.. 

"Gwe ga mau masuk, sini kasetnya " 

"Denger ya, Gwe ga mau pake lo lagi! Lo tahu Ga? "

"Kemaren lo kasih gwe kaset apaan??"

"Mana ada lagi perang ada suara kucing,  ada lagu michael jakson?"

"Gila lu ya??! Makanya sebelum setor di edit dong"

"Kontrak kita habis sampe sini. Gwe mau cari pengganda kaset bajakan yang lain"

" Amatiran! capek gwe ama Lu "



275 word for Monday Flash Fiction

Friday, March 15, 2013

Lampu Bohlam #3 Pesona

credit

Sejak kelas tiga SMP, saat pertama kali mengalami menstruasi. Saat itulah awal dari perubahan sikap yang terjadi pada saya.

Mulai merasakan suka pada lawan jenis, yang rata-rata usia lebih tua 5 tahun dari saya. Tak pernah saya menyukai anak-anak sebaya. Entah kenapa?

Suatu saat saya pernah sangat terpesona dengan teman kakak laki-laki yang dia bawa kerumah. Ganteng, tinggi, hidung timur tengah , Sebut saja Asep ,dan yang pasti datang dengan pacarnya :( saya yang saat itu dekil, pemalu, ga bisa dandan , tak pernah berharap banyak.

Jika dia main kerumah untuk bertemu kakak, saya pastikan saya selalu rapih dan selalu ingin terlihat bersih. Apa daya saking terburu-burunya memakai rok,  ujung rok yang seharusnya sebatas lutut terselip di pinggang. Hmmmm tersikaplah bagian belakang saya :P. Untungnya saya pakai street. Tapi kan semua itu tidak bisa dimaafkan. Dan sangat memalukan :( semua yang lihat hanya mesem-mesem kecut .

Waktu berlalu dan saya coba melupakan. Kebetulan saya pindah sekolah saat SMU, di tempat baru ada saja yang membuat saya terpesona. Kali itu pada seorang yang usianya berbeda 10 tahun, Seno. Dia suka sekali mengasuh keponakannya di depan rumah. Saya sering mencuri-curi waktu agar jadwal berangkat kerjanya sama dengan berangkat saya ke sekolah. Dengan satu alasan supaya naik angkotnya barengan . Whuuaa ga banget yaa.. :P saya juga hanya sebatas mengagumi, tak pernah berpikir untuk berkomitment lebih jauh. Tetapi rasa ingin selalu bertemu itu selalu ada . abegehh :D

Sampai suatu saat dia menghilang entah kemana . Hiks

Lalu beberapa bulan kemudian sesosok manusia bergigi peps_den_ memesona saya . Kali ini saya tidak bertepuk sebelah tangan, kami berkomitmen. Tetapi pesona masa lalu datang yaitu Asep, melihat saya yang sudah mulai bisa menata diri, dan bisa memakai rok dengan rapi, kali ini asep yeng terpesona. Akhirnya saya pun berkomitmen dengan keduanya. Sampai suatu hari di bulan ketiga saya putuskan keduanya, tanpa pernah tahu mereka diduakan. Maaf ya

Komitmen, tapi jarang sekali betemu, hanya berkirim surat, Rekor berkomitmen 3 bulan terlama, ada juga yang baru seminggu lalu apel pertama langsung diputusin. maapin lagi ya  . Setelah itu Capek, tobat dan Ga pernah pacaran  lagi, Ga suka dan ga enak di atur-atur. Sampai akhirnya bertemu arjuna sungguhan yang berhasil memesona saya selama kurang lebih 11 tahun dan semoga sampai akhir hayat. Amiin  :D


Yuks ikut cerita , Disini .

Thursday, March 7, 2013

Prompt #4: Boneka untuk Risa




"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"
98762898AP12103-2

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”
Bayu mengangguk senang.

Ibu melangkah ke kamar, tetapi yang dicari tidak ada. Tak sulit mencari seseorang di rumah itu. Rumah yang tidak luas. Karena hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan dapur. Ruang tamu yang berisi kasur yang sudah menipis, tumpukan baju, dan beberapa galon kosong. Ibu menuju dapur dan melihat Risa disana. Di depan tungku yang menyala, menunggu kukus ubi yang dimasak Ibu.
 
"Risa! lihat, Kak Bayu bawa boneka sayang." Risa menoleh ke arah Ibu dan Bayu.

"Kak Bayuu! Itu bukan boneka bayi yang Risa maksud"

Risa menyambar boneka yang Ibu bawa. "Tuh, ini kalau dotnya di copot bayinya enggak nangis, botol susunya mana, ?"

"Warna bajunya juga bukan pink!" 

"Risa sebel, sama Kak Bayu"  Risa mengerucut.

Bayu berlalu dari dapur, konsentrasinya buyar. Tongkatnya jatuh , Bayu berjalan menabrak satu demi satu galon yang kosong, dan akhirnya tersungkur.

'Jika saja aku tidak buta. Penjual tadi tak mungkin bohong padaku.'  Air mata Bayu menetes dan semakin deras. Gitar yang di selendangkan terasa berat menimpa punggungnya.
 

Wednesday, February 20, 2013

[BeraniCerita #2] Aku cemburu? Ya, aku cemburu

credit
Hari ini tak terlihat postingan game bolamu di wallku . Aku mulai membuka chat room, aku berharap membaca namamu disana, lalu setelah spasi, nampak bulatan hijau, tanda online. Sia-sia.

Ku tutup chatroom dan kembali ke beranda. Tak ada kabar menarik. Hanya berisi ocehan teman-teman yang mengeluh, saling mencaci,  pamer,  postingan lebay, alay dan sejenisnya.

"Hufh.. pasti kamu sedang mengurus pernikahanmu!"

"Nyebelin banget sih tuh perempuan!"

"Sok imut, sok alim"

Teringat postinganmu waktu itu, memamerkan calon istri.  Dan seluruh komentar bernada sama . Semua berseru setuju bahwa kalian begitu serasi.

"fuihh.."

Serasi dari hongkong? Aku pun terpaksa me-like poto itu dan berkomentar

"semoga langgeng"

Setelah itu aku add perempuanmu itu, dan berkenalan. Sering aku pasang topeng saat ngobrol dengannya. Sering kukatakan bahwa dia cantik, baik dan serasi denganmu.

Hmmmm.. capek! semua kulakukan hanya ingin aku tahu, mana yang lebih dalam cintamu padaku dulu atau sebaliknya. 

"whuaaa.. ternyata aku menang..!"

Perempuanmu bilang , "kamu pendiam, tidak romatis, kaku bla..bla.. bla.. "

Masih teringat jelas setahun yang lalu kamu berkata, bahwa aku lah alasan satu-satunya melajang. Cinta monyet kita dulu sangat membekas untukmu.

Tapi.. "hidup harus berjalan"  katamu.

 Foto itu membuktikan bahwa kamu pun berjalan, menuju takdirmu. Membuat aku cemburu.

Cemburu? Ya, aku cemburu. Harusnya Aku yang ada di foto itu . Bukan perempuan sok alim itu.

Aku capek dengan rasa cemburu ini. Aku hapus akunmu dari friendlist .

 Hari ini ku putuskan untuk mengajak suami dan anak-anakku memancing. Mereka pasti senang sekali.

"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."